Bedah Sosialisme Islam, PKB Sidoarjo Ingin Terjemahkan Gagasan Tjokroaminoto dan Ali Syariati ke Aksi Sosial Kebangsaan
Sidoarjo - DPC PKB Sidoarjo membedah pemikiran Sosialisme Islam H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syariati untuk memperkuat gerakan sosial dan perjuangan keadilan bagi masyarakat.
Gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi intelektual, tetapi dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui kebijakan dan program yang berpihak kepada masyarakat.
Diskusi publik bertema Sosialisme Islam tersebut digelar di Kantor DPC PKB Sidoarjo, Jumat, 6 November 2026. Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Listiyono Santoso, S.S., M.Hum., dosen Universitas Airlangga Surabaya sekaligus penulis buku Epistemologi Kiri, serta Dr. Mochammad Syaifuddin, M.Pd.I., dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan pengkaji pemikiran Ali Syariati.
Ketua DPC PKB Sidoarjo, H. Rizza Ali Faizin, mengatakan diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman kader mengenai arah perjuangan partai di tengah kondisi ekonomi nasional.
“Dengan kondisi ekonomi nasional yang tidak baik-baik saja dan arah ke depan partai ini, bagaimana PKB mengawal paham Sosialisme Islam dan juga dibedah seluruh Indonesia ini. Jadi, dipahamkan bersama, menjadi gerakan bersama, bagaimana gerakan ke depan partai ini tidak lepas dengan aksi-aksi sosial yang ada di masyarakat,” ujarnya.
Sosialisme Islam dan Perjuangan Keadilan Masyarakat
Gus Rizza sapaan akrab Rizza Ali Faizin menjelaskan, gagasan Sosialisme Islam ingin diterjemahkan dalam setiap kebijakan dan program partai agar tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Menurutnya, perjuangan politik tidak boleh terlepas dari upaya menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya di Kabupaten Sidoarjo.
Ia menilai nilai ketuhanan dan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dalam gerakan sosial. Karena itu, gagasan tersebut dinilai sejalan dengan semangat keaswajaan yang menjadi basis perjuangan PKB.
“Sebagaimana ungkapan mencintai Tuhan itu harus juga mencintai kemanusiaan. Artinya, tidak bisa di dikotomi, tidak bisa dipisahkan antara paham ketuhanan dengan paham kemanusiaan,” jelasnya.
Gus Rizza menegaskan, nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi landasan bagi kader PKB dalam menjalankan aksi sosial dan kemanusiaan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah keaswajaan.
Kalialo dan Petani Tambak Kalanganyar Jadi Sorotan
Dalam diskusi tersebut, Kasatkorwil Banser Jatim itu juga mengaitkan gagasan keadilan sosial dengan sejumlah persoalan masyarakat yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian pemerintah daerah.
Ia mencontohkan persoalan warga di kawasan Kalialo Desa Kupang Kecamatan Jabon yang di nilainya belum mendapatkan perlakuan program secara setara dibandingkan wilayah lain.
Selain itu, Gus Rizza menyoroti petani tambak di Kalanganyar Kecamatan Sedati yang disebut belum memperoleh program seperti yang telah diterima petani di wilayah lain.
“Dengan adanya diskriminasi, di wilayah yang lain bisa disurvei, tapi di Kalialo masih belum. Ini tadi juga ada petani tambak Kalanganyar. Di sisi yang lain sudah dapat program, di sini belum. Nah, ini yang akan kita perjuangkan sehingga keadilan akan merata untuk masyarakat Sidoarjo,” ungkapnya.
Ia menyebut persoalan tersebut menjadi salah satu contoh isu yang akan diperjuangkan melalui gerakan politik dan peran kader PKB, termasuk melalui aspirasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah.
Libatkan Kader Muda NU dan Mahasiswa
Diskusi publik Sosialisme Islam tersebut tidak hanya melibatkan pengurus dan kader PKB. Forum juga diikuti kader muda Nahdlatul Ulama dari IPNU-IPPNU, mahasiswa Unusida, serta aktivis mahasiswa.
Keterlibatan kalangan muda dan mahasiswa menjadi bagian dari ruang pertukaran gagasan mengenai pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syariati serta relevansinya dengan persoalan sosial kebangsaan.
Dalam forum tersebut, peserta mengikuti pemaparan narasumber dan terlibat dalam diskusi mengenai pemikiran kedua tokoh tersebut.
Melalui kegiatan ini, DPC PKB Sidoarjo berharap pemikiran Sosialisme Islam dapat menjadi inspirasi gerakan sosial dan memperkuat komitmen perjuangan keadilan bagi masyarakat. (*)
Komentar