Banjir Masih Mengintai Sidoarjo, Pemkab Siagakan 17 Pompa Air dan Empat Posko Bencana
Sidoarjo - Ancaman banjir masih menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menjelang musim hujan 2026–2027. Sebanyak 17 unit pompa air, empat perahu karet, 51 kendaraan operasional, serta empat posko bencana wilayah disiapkan untuk memperkuat penanganan bencana hidrometeorologi.
Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung, hingga kawasan Sidoarjo Kota. Selain banjir, Pemkab Sidoarjo juga mengantisipasi potensi angin kencang, kebakaran, dan kekeringan.
Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan kesiapan tersebut saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-alun Sidoarjo, Jumat, 6 November 2026. Ia menginstruksikan seluruh kecamatan mengaktifkan posko bencana dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan,” tegasnya. Jumat, 6 November 2026.
Peralatan dan Posko Bencana Disiagakan
Untuk mendukung penanganan di lapangan, Pemkab Sidoarjo menyiapkan berbagai peralatan. Selain 17 pompa air dan empat perahu karet, tersedia 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail, serta 12 unit mobil pemadam kebakaran.
Pemkab juga menyiapkan 40 tenda pengungsian, dua dapur umum, 20 genset, dan 50 gergaji mesin. Kesiapan tersebut didukung 32 rumah air yang tersebar di enam kecamatan, yakni Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong.
Selain satu posko siaga utama BPBD, empat posko bencana wilayah disiapkan di Tanggulangin, Porong, Candi, dan Jabon. Posko tersebut akan diaktifkan apabila terjadi bencana banjir.
Apel kesiapsiagaan diikuti sekitar 400 peserta dari unsur TNI, Polri, BPBD, perangkat daerah Pemkab Sidoarjo, Basarnas Surabaya, PLN Sidoarjo, PMI Sidoarjo, serta relawan.
Normalisasi Sungai Dilanjutkan, Air Rob Jadi Tantangan
Selain menyiapkan peralatan, Pemkab Sidoarjo melanjutkan upaya pengendalian banjir melalui normalisasi sungai dan saluran air. Pekerjaan tersebut terutama dilakukan di wilayah Tanggulangin, Porong, dan Candi. Titik rawan banjir di kawasan perkotaan juga telah dipetakan untuk mendukung langkah antisipasi.
“ Saat ini normalisasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) terus dilakukan. Koordinasi dengan para camat juga terus dilakukan,” ungkap Subandi.
Di wilayah Kedungpeluk, Kecamatan Candi, pemerintah daerah juga telah membangun dam berukuran besar yang disertai normalisasi untuk mendukung pengendalian banjir.
Namun, Subandi mengakui penanganan banjir di sejumlah wilayah masih menghadapi tantangan karena karakteristik geografis Sidoarjo sebagai kawasan Delta.
“Kalau air rob meluap, air tidak bisa langsung kita keluarkan. Kita harus menunggu sampai kondisi air memungkinkan, baru dilakukan pembuangan,” jelasnya.
Menurut Subandi, ancaman bencana di wilayah Delta Sidoarjo lebih didominasi banjir. Meski demikian, kesiapsiagaan tetap diarahkan untuk menghadapi potensi bencana lain, termasuk angin puting beliung, kebakaran, dan kekeringan.
Ia juga mengapresiasi seluruh unsur yang telah bekerja sama dalam penanganan bencana di Kabupaten Sidoarjo.
“Saya berharap sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan terus diperkuat sehingga upaya mitigasi dan penanganan bencana dapat berjalan optimal serta memberikan perlindungan bagi masyarakat,” tutupnya.
Sidoarjo Catat 28 Kejadian Bencana hingga November 2026
Berdasarkan data BMKG yang disampaikan dalam bahan informasi kesiapsiagaan, musim hujan di Sidoarjo diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Puncak hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027.
Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih singkat. Sementara itu, fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027 sehingga pola cuaca cenderung sulit diprediksi.
Di sisi lain, data kejadian bencana di Kabupaten Sidoarjo menunjukkan terdapat 28 kejadian sepanjang Januari hingga 1 November 2026. Rinciannya, empat kejadian banjir, 21 kejadian angin kencang, dan tiga kejadian kekeringan.
Dampak angin kencang tercatat menjangkau 14 kecamatan dan 63 desa. Sebanyak 288 rumah dilaporkan mengalami kerusakan ringan.(*)
Komentar